'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
PCA KADEMANGAN GELAR PELATIHAN MERAWAT JENAZAH
30 April 2018 10:13 WIB | dibaca 704

Probolinggo_ Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kademangan menggelar pelatihan merawat jenazah, Minggu (15/4). Pelatihan ini dilaksanakan untuk membekali ibu-ibu Aisyiyah  cara merawat jenazah yang sesuai syariat Islam.

Ke depannya, PCA Kademangan rencana membuat tim perawat jenazah yang bisa dimanfaatkan untuk keluarga Aisyiyah maupun masyarakat secara umum. Pelatihan merawat jenazah ini merupakan kegiatan awal dari corps muballigath yang merupakan program dari Majelis Tabligh PCA Kademangan yang diketuai oleh Tutik Misbah. Kegiatan ini dihadiri sekitar 30 orang terdiri dari PCA, PRA dan simpatisan.

Ketua PCA Kademangan Rika Umiyati, S.Pd dalam pembukaan acara mengatakan bahwa pelatihan tersebut menjadi ijtihad Aisyiyah Kademangan agar bermanfaat bagi umat. “Selama ini kami masih bingung bagaimana cara merawat jenazah. Setelah melalui pelatihan ini, semoga yang tadinya masih ragu dalam mengurus jenazah, akan menjadi mantap karena sudah mendapat bekal ilmu.” terangnya.

Dalam kegiatan yang digelar di Masjid Al-Hikmah Ketapang ini, PCA Kademangan melalui majelis tabligh mendatangkan pemateri dari PDA kota Probolinggo. Yakni, Indah Nurhidayati, S.Pd yang juga merupakan Ketua Corps Muballighat Aisyiyah kota Probolinggo. Tak hanya teori, selama 2 jam yakni sejak pukul 09.00 -11.00, Indah juga menjelaskan tata cara merawat jenazah dengan praktek.

Dalam materinya Indah mengatakan, “Sebelum meninggal, hendaknya ada pihak keluarga yang mendampingi, fungsinya untuk menguatkan imannya. Jangan sampai saat itu iblis datang dan memurtadkannya.”  

Keluarga juga diminta menuntun anggota keluarga yang sudah ada tanda-tanda meninggal, dengan membaca talqin Laa Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah). Setelah meninggal, keluarga hendaknya menyegerakan jenazah, menutup mata ketika mata terbuka. Jika mulut terbuka, ikat dagu ke atas kepala dengan kain.

Selain itu, jenazah juga harus ditutup dengan kain ke seluruh tubuhnya, baru setelah itu dilakukan proses memandikan jenazah. Jelas Indah lebih lanjut, “Yang boleh memandikan jenazah, jika perempuan yaitu suaminya dan keluarganya sesama perempuan.” Tempat memandikan jenazah diusahakan tertutup atau ditutup dengan kain, hal ini dimaksudkan agar tidak terlihat oleh orang lain (selain yang memandikan); menggunakan air secukupnya; memakai air kapur barus dan wangi-wangian; sarung tangan untuk memandikan dan handuk.

Dalam memandikan jenazah, hendaknya menyiram bagian kanan dulu kemudian kesebelah kiri tubuh jenazah. Diutamakan memakai sabun cair. Mengurut dan menekan bagian perut agar kotorannya keluar. Kemudian membersihkn dubur dan kemaluannya. “Sebaiknya dilakukan dengan menggunakan sarung tangan dan semua harus dilakukan dengan hati hati”jelas Indah.

Bagi jenazah perempuan setelah dibersihkan rambutnya, dikeringkan dengan handuk dan dikepang. Selesai melakukan proses memandikan, berilah wangi wangian.

Proses selanjutnya yaitu mengkafani jenazah. Kain kafan menurut Indah yang juga guru SMPN I Bantaran ini, terdiri dari 3 lembar bagian luar, dengan ukuran sepanjang badan ditambah 1 jengkal atas dan 1 jengkal bawah, dan bagian dalam ada potongan kain kafan untuk jarit, baju, kerudung dan calana yang dilapisi lampin agar tidak tembus (apabila perlu). Untuk tali bisa disediakan 3, 5 atau 7 yang diletakkan dibawah susunaan kain kafan, Setelah dibungkus dengan menyatukan sisi kanan dan sisi kiri kain kafan, kemudian diikat. Setelah itu jenazah siap untuk dishalatkan. Dan selanjutnya dikuburkan.

Seluruh ibu ibu peserta pelatihan, begitu antusias mengikuti pelatihan perawatan jenazah mulai dari awal sampai akhir, “Sesekali saya membuat catatan di buku yang sengaja saya bawa dari rumah agar saya tidak lupa, saya dan ibu ibu yang lain berharap bisa menerapkan ilmu ini, apabila ada yang meninggal” tegas Umi Chunainah, ketua PRA  Al-Hikmah, Ketapang. (Op.PCA.Kademangan)

Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari